Rabu, 11 November 2015



NAMA            : GIANTO
NIM                : 130254244414
STUDY           : SANITASI DAN HIGIENIS HASIL PERIKANAN

1.     KASUS 177 Siswa SD Keracunan, Polisi Bawa 'Ciken' ke Lab
Description: 177 Siswa SD Keracunan, Polisi Bawa 'Ciken' ke LabIlustrasi anak keracunan makanan. TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO , Tasikmalaya:Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota masih menyelidiki kasus keracunan siswa sekolah dasar di Mangkubumi, Tasikmalaya. Penyidik telah memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan bukti-bukti untuk dilakukan penelitian di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Bandung. Sebelumnya diduga mereka keracunan 'ciken' (ayam goreng) yang dimakan dengan saos.
"Kami masih dalam proses penyelidikan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota, Ajun Komisaris Rusdiyanto saat dihubungi Jumat, 6 Februari 2015.
            Rusdiyanto belum bisa menyimpulkan sumber atau penyebab keracunan. Setelah hasil uji laboratorium keluar, penyidik baru akan melakukan penyidikan. "Belum disimpulkan sumber keracunan darimana kalau belum ada hasil dari laboratorium," kata dia.

            Adapun korban keracunan makanan, saat ini sudah mulai membaik. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (Kabid P2KL), Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Didin Fitriyadi mengatakan, saat ini jumlah korban keracunan yang dirawat di Puskesmas Cigantang tinggal sebelas orang. Selain di puskesmas, ada delapan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Dokter Sukardjo.
"Dua pasien dirujuk ke rumah sakit," kata dia. Sebanyak 117 Sekolah Dasar Negeri 2 Cigantang, Tasikmalaya, Jawa Barat, keracunan makanan. Para korban menyantap jajanan di sekolah yang diduga beracun. “Ada 117 orang siswa yang keracunan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Cecep Zainal Kholis, saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis, 5 Februari 2015.
Para siswa mengeluh pusing, mual, dan buang air setelah menyantap jajanan pada Selasa pagi lalu. Gejala itu timbul setelah mereka memakan jajanan ayam goreng tepung yang dinamakan “ciken”.
Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, telah memeriksa empat pedagang yang berjualan di SDN 2 Cigantang. “Empat pedagang sudah diperiksa. Kami juga sudah mengambil sampel makanan dan diserahkan ke Dinas Kesehatan,” kata Rusdiyanto.
            Keempat pedagang itu, kata Rusdiyanto, biasa berjualan di depan sekolah. Namun hingga kini polisi belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. Polisi masih menunggu hasil uji laboratorium. “Menunggu hasil laboratorium, apakah makanan mengandung bahan berbahaya atau tidak,” kata dia.
2.     Terkontaminasi Bakteri, Menjadi Penyebab Keracunan Massal di Sleman
Selasa, 10 Februari 2015, 22:40 WIB

ANTARA/ Saiful Bahri
Description: keracunan makananREPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman sudah mengantongi hasil uji laboratorium terhadap makanan dari tiga katering yang menyebabkan ratusan karyawan PT Mataram Tunggal Garment (MTG) di Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta beberapa waktu lalu mengalami keracunan massal.
Hasilnya, semua makanan terkontaminasi bakteri. Kepala Dinkes Sleman, Mafilindati Nuraini mengatakan, bakteri yang terdapat pada makanan tersebut berupa Staphylococcus Aureus dan Baccillus Cereus.
"Kontaminasi bakteri biasanya terjadi pada makanan yang tidak higienis," katanya di ruang kerja pada Selasa (10/2).
Bakteri yang ditemukan dalam makanan tersebut, memang dapat menyebabkan terjadinya gejala pusing, mual, muntah, dan keringat dingin. Hal tersebut terbukti banyak karyawan yang keracunan mengalami empat gejala tersebut.
Menurut dia, mual dan muntah yang berlebihan akan mengakibatkan dehidrasi. Sehingga dengan dehidrasi tersebut menyebabkan kejang-kejang karena kekurangan cairan.
Peristiwa ini, merupakan pembelajaran bagi perusahaan agar lebih teliti dalam membangun mitra dengan pengusaha katering. Dia menghimbau agar perusahaan memilih katering yang bersertifikat higiene sanitasi. Sebab, sertifikat tersebut untuk melindungi mutu makanan juga melindungi konsumen.
"Hal ini semestinya dipatuhi oleh perusahaan," tambahya. Kendati demikian, Dinkes tidak bisa memberikan sanksi terhadap katering yang tidak memiliki sertifikat tersebut. Pasalnya, aturan yang mengharuskan agar pengusahan katering memiliki sertifikat tersebut baru berbentuk Peraturan Bupati (Perbup). Berbeda jika peraturan tersebut berbentuk Peraturan Daerah (Perda) baru bisa dikenai sanksi.
Akan tetapi, dengan adanya peristiwa keracunan massal dan ditemukannya makanan yang terkontaminasi bakteri maka, Dinkes bisa mengeluarkan rekomendasi agar usaha katering tersebut dicabut izin usahanya.
Dalam peristiwa keracuan massal karyawan PT MTG beberapa waktu lalu, jumlah korban sebanyak 149 orang. Dari jumlah tersebut 99 persen merupakan perempuan dan satu persen laki-laki. Sedangakan untuk makanan yang disediakan yaitu sebanyak 1917 bungkus.

Ditanya soal proses selanjutnya terhadap ketiga katering yang menyediakan makanan kepada karyawan PT MTG tersebut, dia menyerahkan kepada kepolisian.
"Hasilnya ujian laboratorium nanti akan diminta oleh Kapolsek, yang besok masih mau mengajukan permohonan," tutupnya.

3.     Buah Impor Cina Sebar Virus Hepatitis A di Australia
Description: Buah Impor Cina Sebar Virus Hepatitis A di AustraliaTEMPO.CO, Canberra - Sembilan warga Australia dinyatakan positif terjangkit virus hepatitis A setelah mengkonsumsi buah beri asal Cina yang terkontaminasi. Importir telah meminta maaf atas insiden ini.

            Produsen Patties Foods menarik empat produk, termasuk merek Nanna's dan Creative Gourmet. Di dalam kemasan keempat produk itu, buah beri dicampur dengan buah lain. Insiden infeksi virus ini dilaporkan terjadi di Victoria, Queensland, dan New South Wales.

            Buah-buah yang sudah dikemas di Cina itu dijual di supermarket-supermarket besar dalam skala nasional. Kasus-kasus hepatitis A dihubungkan dengan buah segar kemasan yang dilabeli Nanna's Frozen Mixed Berries. Kini, bersama tiga merek lain, buah-buahan itu telah ditarik dari peredaran.
"Infeksi virus hepatitis A jarang terjadi dan biasanya terkait dengan perjalanan ke negara-negara yang merupakan endemik hepatitis A," kata Rosemary Lester, petugas kesehatan di negara bagian Victoria, di mana tiga kasus telah dilaporkan. "Satu-satunya link umum antarkasus adalah konsumsi produk ini, karena tidak ada perjalanan ke luar negeri atau makan di restoran."
Kebersihan yang minim di kalangan pekerja Cina diduga menjadi penyebabnya. Selain itu, air yang terkontaminasi juga bisa menjadi penyebab. "Dalam situasi ini, kemungkinan besar penyebabnya adalah kebersihan yang buruk di lokasi produksi," kata Enzo Palombo, seorang ahli kesehatan dan keamanan pangan di Swinburne University of Technology.
Hepatitis A bisa ditularkan oleh apa yang disebut sebagai siklus faeses-oral. Dalam siklus ini, kotoran yang mengandung virus hepatitis A mencemari makanan atau air.
Hepatitis A adalah penyakit virus yang mempengaruhi organ hati. Penyakit dengan masa inkubasi hingga 50 hari ini menyebabkan sakit perut, mual, muntah, kelelahan, dan apa yang kemudian lazim disebut dengan penyakit kuning.
http://www.tempo.co/topik/masalah/2081/Keracunan-makanan
4. Makan Ikan Tongkol, Santri Keracunan
22/10/14, 04:10 WIBDescription: http://www.jawapos.com/jppic/8343_6820_ok-sukabumi-keracunan.jpg
SARAPAN PAGI: Pelajar Ponpes Amal Islami Sukabumi, Jawa Barat, menjalani perawtan di Puskesmas Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Selasa (21/10). (Ikbal/Radar Sukabumi/JPNN)
SUKABUMI – Kasus keracunan di kalangan pelajar terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Korbannya berjumlah 17 santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) kelas VII dan Madrasah Aliyah (MA) Amal Islami.
Korban mengalami mual dengan wajah memerah, pusing, gatal, dan kejang-kejang. Seluruh korban diduga menyantap ikan tongkol saat sarapan sekitar pukul 06.30 WIB. Sarapan itu disediakan pihak dapur umum milik pondok pesantren di Kampung Lemburpasir, RT 01, RW 05, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Lembursitu, tersebut.
Korban lantas dilarikan ke Puskesmas Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Selasa (21/10). Berdasar pantauan Radar Sukabumi (Jawa Pos Group), 17 santri yang terkulai lemah di IGD Puskesmas Lembursitu diberi slang infus di lengan. Sebanyak 6 santri telah dipulangkan lantaran kondisinya membaik. Sisanya, 11 santri, masih dirawat pihak puskesmas.
Pimpinan Ponpes Amal Islami Sukabumi Ustadz Deden Dahlan, 57, mengungkapkan bahwa kondisi yang dialami anak-anak saat ini baru kali pertama terjadi. Sebab, ikan yang ditengarai penyebab keracunan tersebut bukan kali pertama diperoleh pihak ponpes dari salah satu orang tua siswa asal Pelabuhan Ratu. Hanya, ikan itu dimasak pihak ponpes pada Senin (20/10).
Sementara itu, salah seorang korban, Muhammad Fahmi, 13, menyatakan pusing setelah memakan ikan tersebut. Selain itu, wajahnya tampak memerah dengan bintik-bintik kecil. Tidak lama kemudian, dia muntah dan terpaksa dilarikan ke Puskesmas Lembursitu. ’’Sejam setelah saya makan ikan itu, rasanya pusing dan mual-mual. Bahkan, ada teman saya yang kejang-kejang,’’ ucapnya.
Di pihak lain, Kepala Puskesmas Lembursitu dr Wahyu Handriana menuturkan bahwa para pasiennya diduga itu mengalami keracunan makanan. Untuk memastikannya, tim medis Puskesmas Lembursitu tidak memperoleh sampel makanan untuk diuji di laboratorium Bandung.
’’Melihat dari gejalanya sih, kami menganalisis mereka itu keracunan makanan. Namun, kami belum bisa memastikan karena sudah tidak ada sampel makanannya. Sisa makanannya pun sudah dibuang dan dicuci,’’ terang dr Wahyu.
Saat ini, lanjut dia, seluruh korban telah mendapat pelayanan medis. (ren/JPNN/c14/diq)
5.     Waspadai Histamin pada Ikan
Ditulis oleh Redaksi chem-is-try.org pada 15-07-2009
Description: ikan-segarSajian dari ikan laut selalu mengundang selera. Selain rasanya yang lezat, kandungan proteinnya pun tergolong sangat prima kualitasnya. Tidak hanya itu, ikan juga merupakan sumber asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat besar peranannya dalam mencegah berbagai macam penyakit (jantung koroner, aterosklerosis dan beberapa penyakit kanker). Tetapi, dibalik kelezatannya tersembunyi bahaya keracunan histamin. Apa itu histamin?
Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. Pada orang-orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.
Histamin tidak membahayakan jika dikonsumsi dalam jumlah yang rendah, yaitu 8 mg/ 100 gr ikan. Keracunan ini biasanya akan timbul karena tingginya kadar histamin yang terdapat pada ikan yang kita konsumsi. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak hiegenis.
Gejala keracunan akan muncul apabila kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam jumlah diatas 70-1000 mg. Akibatnya, timbul muntah-muntah, rasa terbakar pada tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin mirip dengan gejala alergi yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru membedakan gejala keracunan histamin dengan alergi. Sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa dianggap sepele.
Langkah yang paling tepat untuk mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengkonsumsi ikan yang masih segar dan bermutu baik. Selain itu perhatikan pula cara penanganan ikan secara tepat dan benar sehingga kemungkinan besar bahayanya dapat dihindari.
Sumber : Clickwok

Tidak ada komentar: