Sabtu, 02 Januari 2016



LAPORAN
BIOTEKNOLOGI HASIL PERAIRAN
‘’Elektroforesis SDS-PAGE Gel’’


logo-umrah-web

Disusun oleh :
GIANTO
130254244414




JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN
FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Elektroforesis adalah suatu teknik pemisahan yang memisahkan analit berdasarkan kemampuannya bergerak dalam medium konduksi yang biasanya berupa larutan buffer dan akan memberikan respons setelah diberikan medan listrik (Harvey, 2000).
Salah satu metode PAGE yang umumnya digunakan untuk analisa campuran protein secara kualitatif adalah SDS PAGE ( Sodium Dodecyl Sulfate Polyacrilamide Gel Electroforesis ). Prinsip penggunaan metode ini adalah migrasi komponen akril  amida dengan N.N` bisakrilamida. Kisi – kisi tersebut berfungsi sebagai saringan molekul sehingga konsentrasi atau rasio akrilamid dengan bisa krilamid dapat diatur untuk mengoptimalkan kondisi migrasi komponen  protein. Metode ini sering digunakan untuk menentukan berat  molekul suatu protein disamping untuk memonitor pemurnian protein (Wilson  dan Walker, 2000). SDS PAGE dilakukan terhadap protein tak larut dengan kekuatan ion rendah dan dapat menentukan apakah suatu  protein termasuk monomerik atau oligomerik, menetapkan berat molekul dan jumlah rantai polipeptida sebagai subunit atau monomer.
Fungsi SDS (sodium dodecyl sulfat) merupakan detergen anionik, yang apabila dilarutkan molekulnya memiliki muatan negatif dalam range pH yang luas. Fungsi utama SDS padametode SDS-PAGE (SDS-Polyacrylamide gel electrophoresis) yaitu untuk memberikan muatan negatif pada protein yang akan dianalisis, selain itu SDS dapat mendenaturasi protein, mempermudah menyamakan kondisi, dan menyederhanakan protein (bentuk,ukuran, dan muatan). Muatan negatif SDS akan menghancurkan sebagian stukturkompleks protein dan secara kuat tertarik ke arah anoda bila ditempatkan pada suatumedan listrik (Anam, 2009)
Penggunaan SDS PAGE bertujuan untuk memberikan muatan negatif pada protein yang akan dianalisa. Protein yang terdenaturasi sempurna akan mengikat SDS dalam jumlah yang setara dengan berat molekul protein tersebut (Dunn,1989). Denaturasi protein dilakukan dengan merebus sampel dalam buffer yang mengandung β merkaptoetanol (berfungsi untuk mereduksi ikatan isulfide), gliserol dan SDS (Wilson dan Walker,2000). Muatan asli protein akan digantikan oleh muatan negatif dari anion yang teikat sehingga kompleks protein SDS memiliki rasio muatan per berat  molekul yang konstan. (Hames, 1987).
merupakan elektroforesis yang menggunakan gel sebagai fasediam untuk memisahkan molekul-molekul seperti DNA dan protein menjadi pita-pitayang masing-masing terdiri atas molekul-molekuldengan panjang yang sama.Elektroforesis gel merupakan teknik memisahkan suatu makromolekul dengan caramemberi gaya pada makromolekul tersebut untuk melewati medium berisi gel yangdibantu dengan tenaga listrik. Elektroforesis gel memisahkan berdasarkan lajuperpindahannya melewati suatu gel di bawah pengaruh medan listrik. Media atau gelyang dapat digunakan yaitu agarose gel (elektroforesis DNA) dan poliakrilamid gel(elektroforesis protein). Laju pergerakan molekul dipengaruhi oleh ukuran molekul,konsentrasi gel, bentuk molekul, densitas muatan, pori-pori gel, voltase, dan larutanbuffer elektroforesis (Martin, 2006)

1.2  Tujuan

Tujuan analisis protein dengan metode elektroforesis yaitu untuk memisahkanprotein berdasarkan berat molekul dengan menggunakan matriks penyangga akrilamid. Selain itu dengan elektroforesisakan diketahui jenis protein dalam bahan atau sampel yang akan dianalisis.

BAB II
 METODOLOGI

2.1   Materi

·         Alat

ü  Glass plates
ü  Casting frame
ü  Casting stand
ü  tisue
ü  Not leaking

·         Bahan

ü  sampel
ü  Acrylamide
ü  1.5 M Tris, pH 8.8 (Resoving Gel dan 0.5 M Tris, pH 6.8 (stacking Gel)
ü  SDS
ü  dH2O
ü  Ammonium Persulphate
ü  TEMED
ü  buffer

2.2  Metoda

A.    Prosedur kerja

·         Persiapan Gel

1.      Alat dan bahan pembuatan gel disiapkan. Kaca dipasang pada penjepitnya.
2.      Campuran bahan separating gel disiapkan sesuai dengan resep dan konsentrasinya.
3.      Campuran separating gel dihomogenkan dengan cepat agar tidak segera mengeras.
4.      Campuran separating gel dimasukkan pada gel caster dengan bantuan pipet,  ikuti dengan pemberian aquades agar permukaan gel rata dan oksigen tidak ada.
5.      Ruang disisakan untuk stacking gel.
6.      Setelah separating gel mengeras, sisa aquades dibuang.
7.      Campuran stacking gel disiapkan.
8.      Campuran stacking gel dihomogenkan dengan cepat.
9.      Campuran stacking gel dituang di atas separating gel dan sisir (comb) segera dipasang diatas stacking gel.
10.  Gel dibiarkan hingga mengeras.
11.  Setelah gel mengeras, kaca dilepas dari penjepitnya.
12.  Gel pada kaca dipasang pada alat elektroforesis dan running buffer dituang.

·         Persiapan Sampel

1.        Sampel protein dan tracking dye (RSB) disiapkan.
2.        Sampel direbus pada suhu 100°C selama 5 menit.
3.        Sampel didinginkan pada suhu ruangan.

·         Elektroforesis Gel

1.        Sampel protein dimasukkan ke dalam gel melalui ujung atas stacking gel sesuai dengan kebutuhan / sumur.
2.        Power supply dinyalakan.
3.        sampel diproses atau running dengan memberikan tegangan listrik sebesar 120 V selama 60-90 menit.
4.        Gel dilepas dari kacanya.

·         Staining dengan Coomasie Briliant Blue

1.        Gel direndam dalam staining solution Coomasie Brilliant Blue
2.         Rendaman gel dalam staining solution Coomasie Brilliant Blue R – 250 diletakkan di dalam shaker selama 20 - 30 menit.

·         Destaining

1.        Pewarna pada gel dihilangkan dalam rendaman destain solution sambil tetap di shaker.
2.        Lakukan destaining semalam di atas shaker sampai gel kelihatan bersih.
3.        Gel siap discan dan dianalisa hasilnya.
4.        Hitung BM protein pada band protein yang tampak pada gel  menggunakan grafik regresi linear.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1   Elektroforesis SDS – PAGE

Elektroforesis adalah sebuah metode untuk separasi atau pemisahan sebuah molekul besar (seperti protein, fragmen DNA, RNA dll) dari campuran molekul yang serupa. Elektroforesis digunakan untuk memisahkan komponen atau molekul bermuatan berdasarkan perbedaan tingkat migrasinya dalam sebuah medan listrik. Sebuah arus listrik dilewatkan melalui medium yang mengandung sampel yang akan dipisahkan. Teknik ini dapat digunakan dengan memanfaatkan muatan listrik yang ada pada makromolekul, misalnya DNA yang bermuatan negatif. Jika molekul yang bermuatan negatif dilewatkan melalui suatu medium (misal agarosa), maka molekul tersebut akan bergerak dari muatan negatif menuju muatan positif. Kecepatan gerak molekul tersebut tergantung pada rasio muatan terhadap massanya dan bentuk molekulnya (Yuwono, 2008).

3.2  Fungsi SDS pada metode SDS-PAGE

SDS (sodium dodecyl sulfat) merupakan detergen anionik, yang apabila dilarutkan molekulnya memiliki muatan negatif dalam range pH yang luas. Fungsi utama SDS pada metode SDS-PAGE (SDS-Polyacrylamide gel electrophoresis) yaitu untuk memberikan muatan negatif pada protein yang akan dianalisis, selain itu SDS dapat mendenaturasi protein, mempermudah menyamakan kondisi, dan menyederhanakan protein (bentuk, ukuran, dan muatan). Muatan negatif SDS akan menghancurkan sebagian stuktur kompleks protein dan secara kuat tertarik ke arah anoda bila ditempatkan pada suatu medan listrik (Anam, 2009).

3.3  Fungsi akrilamid pada metode SDS-PAGE

Fungsi akrilamid  pada metode SDS-PAGE yaitu untuk mencegah difusi akibat timbulnya panas pada arus listrik. Selain itu gel akrilamid sering dimanfaatkan untuk memisahkan molekul protein yang kecil. Konsentrasi akrilamid total dalam gel dapat mempengaruhi migrasi  protein. Pada proses pembuatan  gel,  akrilamid  akan berpolimerisasi secara spontan bila tidak ada oksigen (Prihanto, 2011).

3.4 Fungsi pewarnaan gel pada metode elektroforesis

Pewarnaan atau staining pada gel merupakan bagian dari metode SDS-PAGE. Fungsi pewarnaan gel pada elektroforesis yaitu untuk membantu memonitor jalannya elektroforesis. Pewarnaan gel pada metode elektroforesis protein terdiri dari commasie blue staining dan silver salt staining. Pada pengecatan dengan menggunakan perak nitrat dianalisa jarak migrasi pita-pita protein terbentuk pada gel pemisah. Jarak migrasi diukur dan dibandingkan dengan jarak yang ditempuh oleh pewarna biru bromofenol. Sedangkan pewarna biru bromofenol untuk mengamati migrasi molekul protein selama elektroforesis (Anam, 2009).

3.5 Stacking gel

Stacking gel merupakan salah satu gel yang digunakan dalam SDS-PAGE. Stackinggel merupakan gel pengumpul atau gel penimbun yang terletak pada bagian atas.Stacking gel dibuat dengan campuran antara akrilamid 30%, Tris HCl 1 M pH 6,8, sterilaquades, SDS 10%, Ammonium Phosphate (APS) 10%, dan temed (Utami, 2007).
Stacking gel diperlukan dalam elektroforesis protein karena digunakan untuk mencetak sumuran ( well  ), selain itu digunakan untuk menimbun atau memekatkan protein menjadi satu jalur yang sempit sebelum protein itu memasuki gel pemisah. Stacking gel juga digunakan untuk menahan sementara agar sampel bermigrasi pada waktu yang bersamaan. Pada saat elekroforesis protein, protein akan tertarik ke bagian bawah aruslistrik. Protein yang memiliki berat molekul paling kecil bergerak cepat sehingga tertariksampai bagian bawah gel, sedangkan protein yang memiliki berat molekul paling besarakan berada pada bagian atas dari gel (Utami, 2007).



BAB IV
KESIMPULAN


ü  Stacking gel merupakan salah satu gel yang digunakan dalam SDS-PAGE. Stacking gel merupakan gel pengumpul atau gel penimbun yang terletak  ada bagian atas.

ü  Stacking gel diperlukan dalam elektroforesis protein karena digunakan untuk mencetak sumuran (well), selain itu digunakan untuk menimbun atau memekatkan protein menjadi satu jalur yang sempit sebelum protein itu memasuki gel pemisah



DAFTAR PUSTAKA

Prihanto, A.A. 2011. Teknik Molekuler: Elektroforesis.http://asep.lecture.ub.ac.id.             Diakses Tanggal 21 Desember 2015
Utami, E.S.W., dkk. 2007. Sintetis Protein Selama Embriogenesis Somatik             Anggrek Bulan Phalaenopsis amabilis (L.). Jurnal Biodiversitas. Vol.8,         No.3, Hal.188-19

Rabu, 11 November 2015



NAMA            : GIANTO
NIM                : 130254244414
STUDY           : SANITASI DAN HIGIENIS HASIL PERIKANAN

1.     KASUS 177 Siswa SD Keracunan, Polisi Bawa 'Ciken' ke Lab
Description: 177 Siswa SD Keracunan, Polisi Bawa 'Ciken' ke LabIlustrasi anak keracunan makanan. TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO , Tasikmalaya:Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota masih menyelidiki kasus keracunan siswa sekolah dasar di Mangkubumi, Tasikmalaya. Penyidik telah memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan bukti-bukti untuk dilakukan penelitian di laboratorium Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) di Bandung. Sebelumnya diduga mereka keracunan 'ciken' (ayam goreng) yang dimakan dengan saos.
"Kami masih dalam proses penyelidikan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota, Ajun Komisaris Rusdiyanto saat dihubungi Jumat, 6 Februari 2015.
            Rusdiyanto belum bisa menyimpulkan sumber atau penyebab keracunan. Setelah hasil uji laboratorium keluar, penyidik baru akan melakukan penyidikan. "Belum disimpulkan sumber keracunan darimana kalau belum ada hasil dari laboratorium," kata dia.

            Adapun korban keracunan makanan, saat ini sudah mulai membaik. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (Kabid P2KL), Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Didin Fitriyadi mengatakan, saat ini jumlah korban keracunan yang dirawat di Puskesmas Cigantang tinggal sebelas orang. Selain di puskesmas, ada delapan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Dokter Sukardjo.
"Dua pasien dirujuk ke rumah sakit," kata dia. Sebanyak 117 Sekolah Dasar Negeri 2 Cigantang, Tasikmalaya, Jawa Barat, keracunan makanan. Para korban menyantap jajanan di sekolah yang diduga beracun. “Ada 117 orang siswa yang keracunan," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Cecep Zainal Kholis, saat ditemui di lokasi kejadian, Kamis, 5 Februari 2015.
Para siswa mengeluh pusing, mual, dan buang air setelah menyantap jajanan pada Selasa pagi lalu. Gejala itu timbul setelah mereka memakan jajanan ayam goreng tepung yang dinamakan “ciken”.
Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, telah memeriksa empat pedagang yang berjualan di SDN 2 Cigantang. “Empat pedagang sudah diperiksa. Kami juga sudah mengambil sampel makanan dan diserahkan ke Dinas Kesehatan,” kata Rusdiyanto.
            Keempat pedagang itu, kata Rusdiyanto, biasa berjualan di depan sekolah. Namun hingga kini polisi belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. Polisi masih menunggu hasil uji laboratorium. “Menunggu hasil laboratorium, apakah makanan mengandung bahan berbahaya atau tidak,” kata dia.
2.     Terkontaminasi Bakteri, Menjadi Penyebab Keracunan Massal di Sleman
Selasa, 10 Februari 2015, 22:40 WIB

ANTARA/ Saiful Bahri
Description: keracunan makananREPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman sudah mengantongi hasil uji laboratorium terhadap makanan dari tiga katering yang menyebabkan ratusan karyawan PT Mataram Tunggal Garment (MTG) di Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta beberapa waktu lalu mengalami keracunan massal.
Hasilnya, semua makanan terkontaminasi bakteri. Kepala Dinkes Sleman, Mafilindati Nuraini mengatakan, bakteri yang terdapat pada makanan tersebut berupa Staphylococcus Aureus dan Baccillus Cereus.
"Kontaminasi bakteri biasanya terjadi pada makanan yang tidak higienis," katanya di ruang kerja pada Selasa (10/2).
Bakteri yang ditemukan dalam makanan tersebut, memang dapat menyebabkan terjadinya gejala pusing, mual, muntah, dan keringat dingin. Hal tersebut terbukti banyak karyawan yang keracunan mengalami empat gejala tersebut.
Menurut dia, mual dan muntah yang berlebihan akan mengakibatkan dehidrasi. Sehingga dengan dehidrasi tersebut menyebabkan kejang-kejang karena kekurangan cairan.
Peristiwa ini, merupakan pembelajaran bagi perusahaan agar lebih teliti dalam membangun mitra dengan pengusaha katering. Dia menghimbau agar perusahaan memilih katering yang bersertifikat higiene sanitasi. Sebab, sertifikat tersebut untuk melindungi mutu makanan juga melindungi konsumen.
"Hal ini semestinya dipatuhi oleh perusahaan," tambahya. Kendati demikian, Dinkes tidak bisa memberikan sanksi terhadap katering yang tidak memiliki sertifikat tersebut. Pasalnya, aturan yang mengharuskan agar pengusahan katering memiliki sertifikat tersebut baru berbentuk Peraturan Bupati (Perbup). Berbeda jika peraturan tersebut berbentuk Peraturan Daerah (Perda) baru bisa dikenai sanksi.
Akan tetapi, dengan adanya peristiwa keracunan massal dan ditemukannya makanan yang terkontaminasi bakteri maka, Dinkes bisa mengeluarkan rekomendasi agar usaha katering tersebut dicabut izin usahanya.
Dalam peristiwa keracuan massal karyawan PT MTG beberapa waktu lalu, jumlah korban sebanyak 149 orang. Dari jumlah tersebut 99 persen merupakan perempuan dan satu persen laki-laki. Sedangakan untuk makanan yang disediakan yaitu sebanyak 1917 bungkus.

Ditanya soal proses selanjutnya terhadap ketiga katering yang menyediakan makanan kepada karyawan PT MTG tersebut, dia menyerahkan kepada kepolisian.
"Hasilnya ujian laboratorium nanti akan diminta oleh Kapolsek, yang besok masih mau mengajukan permohonan," tutupnya.

3.     Buah Impor Cina Sebar Virus Hepatitis A di Australia
Description: Buah Impor Cina Sebar Virus Hepatitis A di AustraliaTEMPO.CO, Canberra - Sembilan warga Australia dinyatakan positif terjangkit virus hepatitis A setelah mengkonsumsi buah beri asal Cina yang terkontaminasi. Importir telah meminta maaf atas insiden ini.

            Produsen Patties Foods menarik empat produk, termasuk merek Nanna's dan Creative Gourmet. Di dalam kemasan keempat produk itu, buah beri dicampur dengan buah lain. Insiden infeksi virus ini dilaporkan terjadi di Victoria, Queensland, dan New South Wales.

            Buah-buah yang sudah dikemas di Cina itu dijual di supermarket-supermarket besar dalam skala nasional. Kasus-kasus hepatitis A dihubungkan dengan buah segar kemasan yang dilabeli Nanna's Frozen Mixed Berries. Kini, bersama tiga merek lain, buah-buahan itu telah ditarik dari peredaran.
"Infeksi virus hepatitis A jarang terjadi dan biasanya terkait dengan perjalanan ke negara-negara yang merupakan endemik hepatitis A," kata Rosemary Lester, petugas kesehatan di negara bagian Victoria, di mana tiga kasus telah dilaporkan. "Satu-satunya link umum antarkasus adalah konsumsi produk ini, karena tidak ada perjalanan ke luar negeri atau makan di restoran."
Kebersihan yang minim di kalangan pekerja Cina diduga menjadi penyebabnya. Selain itu, air yang terkontaminasi juga bisa menjadi penyebab. "Dalam situasi ini, kemungkinan besar penyebabnya adalah kebersihan yang buruk di lokasi produksi," kata Enzo Palombo, seorang ahli kesehatan dan keamanan pangan di Swinburne University of Technology.
Hepatitis A bisa ditularkan oleh apa yang disebut sebagai siklus faeses-oral. Dalam siklus ini, kotoran yang mengandung virus hepatitis A mencemari makanan atau air.
Hepatitis A adalah penyakit virus yang mempengaruhi organ hati. Penyakit dengan masa inkubasi hingga 50 hari ini menyebabkan sakit perut, mual, muntah, kelelahan, dan apa yang kemudian lazim disebut dengan penyakit kuning.
http://www.tempo.co/topik/masalah/2081/Keracunan-makanan
4. Makan Ikan Tongkol, Santri Keracunan
22/10/14, 04:10 WIBDescription: http://www.jawapos.com/jppic/8343_6820_ok-sukabumi-keracunan.jpg
SARAPAN PAGI: Pelajar Ponpes Amal Islami Sukabumi, Jawa Barat, menjalani perawtan di Puskesmas Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Selasa (21/10). (Ikbal/Radar Sukabumi/JPNN)
SUKABUMI – Kasus keracunan di kalangan pelajar terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Korbannya berjumlah 17 santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) kelas VII dan Madrasah Aliyah (MA) Amal Islami.
Korban mengalami mual dengan wajah memerah, pusing, gatal, dan kejang-kejang. Seluruh korban diduga menyantap ikan tongkol saat sarapan sekitar pukul 06.30 WIB. Sarapan itu disediakan pihak dapur umum milik pondok pesantren di Kampung Lemburpasir, RT 01, RW 05, Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Lembursitu, tersebut.
Korban lantas dilarikan ke Puskesmas Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Selasa (21/10). Berdasar pantauan Radar Sukabumi (Jawa Pos Group), 17 santri yang terkulai lemah di IGD Puskesmas Lembursitu diberi slang infus di lengan. Sebanyak 6 santri telah dipulangkan lantaran kondisinya membaik. Sisanya, 11 santri, masih dirawat pihak puskesmas.
Pimpinan Ponpes Amal Islami Sukabumi Ustadz Deden Dahlan, 57, mengungkapkan bahwa kondisi yang dialami anak-anak saat ini baru kali pertama terjadi. Sebab, ikan yang ditengarai penyebab keracunan tersebut bukan kali pertama diperoleh pihak ponpes dari salah satu orang tua siswa asal Pelabuhan Ratu. Hanya, ikan itu dimasak pihak ponpes pada Senin (20/10).
Sementara itu, salah seorang korban, Muhammad Fahmi, 13, menyatakan pusing setelah memakan ikan tersebut. Selain itu, wajahnya tampak memerah dengan bintik-bintik kecil. Tidak lama kemudian, dia muntah dan terpaksa dilarikan ke Puskesmas Lembursitu. ’’Sejam setelah saya makan ikan itu, rasanya pusing dan mual-mual. Bahkan, ada teman saya yang kejang-kejang,’’ ucapnya.
Di pihak lain, Kepala Puskesmas Lembursitu dr Wahyu Handriana menuturkan bahwa para pasiennya diduga itu mengalami keracunan makanan. Untuk memastikannya, tim medis Puskesmas Lembursitu tidak memperoleh sampel makanan untuk diuji di laboratorium Bandung.
’’Melihat dari gejalanya sih, kami menganalisis mereka itu keracunan makanan. Namun, kami belum bisa memastikan karena sudah tidak ada sampel makanannya. Sisa makanannya pun sudah dibuang dan dicuci,’’ terang dr Wahyu.
Saat ini, lanjut dia, seluruh korban telah mendapat pelayanan medis. (ren/JPNN/c14/diq)
5.     Waspadai Histamin pada Ikan
Ditulis oleh Redaksi chem-is-try.org pada 15-07-2009
Description: ikan-segarSajian dari ikan laut selalu mengundang selera. Selain rasanya yang lezat, kandungan proteinnya pun tergolong sangat prima kualitasnya. Tidak hanya itu, ikan juga merupakan sumber asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat besar peranannya dalam mencegah berbagai macam penyakit (jantung koroner, aterosklerosis dan beberapa penyakit kanker). Tetapi, dibalik kelezatannya tersembunyi bahaya keracunan histamin. Apa itu histamin?
Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. Pada orang-orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.
Histamin tidak membahayakan jika dikonsumsi dalam jumlah yang rendah, yaitu 8 mg/ 100 gr ikan. Keracunan ini biasanya akan timbul karena tingginya kadar histamin yang terdapat pada ikan yang kita konsumsi. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak hiegenis.
Gejala keracunan akan muncul apabila kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam jumlah diatas 70-1000 mg. Akibatnya, timbul muntah-muntah, rasa terbakar pada tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin mirip dengan gejala alergi yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru membedakan gejala keracunan histamin dengan alergi. Sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa dianggap sepele.
Langkah yang paling tepat untuk mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengkonsumsi ikan yang masih segar dan bermutu baik. Selain itu perhatikan pula cara penanganan ikan secara tepat dan benar sehingga kemungkinan besar bahayanya dapat dihindari.
Sumber : Clickwok