NAMA
: GIANTO
NIM : 130254244414
STUDY : SANITASI DAN HIGIENIS HASIL
PERIKANAN
1.
KASUS 177 Siswa SD Keracunan,
Polisi Bawa 'Ciken' ke Lab
Ilustrasi
anak keracunan makanan. TEMPO/Tony Hartawan
TEMPO.CO , Tasikmalaya:Satuan Reserse dan Kriminal Polres
Tasikmalaya Kota masih menyelidiki kasus keracunan siswa sekolah dasar di
Mangkubumi, Tasikmalaya. Penyidik telah memeriksa saksi-saksi dan mengumpulkan
bukti-bukti untuk dilakukan penelitian di laboratorium Badan Pengawasan Obat
dan Makanan (BPOM) di Bandung. Sebelumnya diduga mereka keracunan 'ciken' (ayam
goreng) yang dimakan dengan saos.
"Kami masih dalam proses penyelidikan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota, Ajun Komisaris Rusdiyanto saat dihubungi Jumat, 6 Februari 2015.
Rusdiyanto belum bisa menyimpulkan sumber atau penyebab keracunan. Setelah hasil uji laboratorium keluar, penyidik baru akan melakukan penyidikan. "Belum disimpulkan sumber keracunan darimana kalau belum ada hasil dari laboratorium," kata dia.
Adapun korban keracunan makanan, saat ini sudah mulai membaik. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (Kabid P2KL), Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Didin Fitriyadi mengatakan, saat ini jumlah korban keracunan yang dirawat di Puskesmas Cigantang tinggal sebelas orang. Selain di puskesmas, ada delapan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Dokter Sukardjo.
"Kami masih dalam proses penyelidikan," kata Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tasikmalaya Kota, Ajun Komisaris Rusdiyanto saat dihubungi Jumat, 6 Februari 2015.
Rusdiyanto belum bisa menyimpulkan sumber atau penyebab keracunan. Setelah hasil uji laboratorium keluar, penyidik baru akan melakukan penyidikan. "Belum disimpulkan sumber keracunan darimana kalau belum ada hasil dari laboratorium," kata dia.
Adapun korban keracunan makanan, saat ini sudah mulai membaik. Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (Kabid P2KL), Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Didin Fitriyadi mengatakan, saat ini jumlah korban keracunan yang dirawat di Puskesmas Cigantang tinggal sebelas orang. Selain di puskesmas, ada delapan siswa yang dirawat di Rumah Sakit Umum Dokter Sukardjo.
"Dua pasien dirujuk ke rumah
sakit," kata dia. Sebanyak 117 Sekolah Dasar Negeri 2 Cigantang,
Tasikmalaya, Jawa Barat, keracunan makanan. Para korban menyantap jajanan di
sekolah yang diduga beracun. “Ada 117 orang siswa yang keracunan," kata
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Cecep Zainal Kholis, saat ditemui di
lokasi kejadian, Kamis, 5 Februari 2015.
Para siswa mengeluh pusing, mual, dan buang air setelah menyantap jajanan pada Selasa pagi lalu. Gejala itu timbul setelah mereka memakan jajanan ayam goreng tepung yang dinamakan “ciken”.
Para siswa mengeluh pusing, mual, dan buang air setelah menyantap jajanan pada Selasa pagi lalu. Gejala itu timbul setelah mereka memakan jajanan ayam goreng tepung yang dinamakan “ciken”.
Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya,
Jawa Barat, telah memeriksa empat pedagang yang berjualan di SDN 2 Cigantang.
“Empat pedagang sudah diperiksa. Kami juga sudah mengambil sampel makanan dan
diserahkan ke Dinas Kesehatan,” kata Rusdiyanto.
Keempat pedagang itu, kata Rusdiyanto, biasa berjualan di depan sekolah. Namun hingga kini polisi belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. Polisi masih menunggu hasil uji laboratorium. “Menunggu hasil laboratorium, apakah makanan mengandung bahan berbahaya atau tidak,” kata dia.
Keempat pedagang itu, kata Rusdiyanto, biasa berjualan di depan sekolah. Namun hingga kini polisi belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. Polisi masih menunggu hasil uji laboratorium. “Menunggu hasil laboratorium, apakah makanan mengandung bahan berbahaya atau tidak,” kata dia.
2.
Terkontaminasi Bakteri,
Menjadi Penyebab Keracunan Massal di Sleman
ANTARA/
Saiful Bahri
REPUBLIKA.CO.ID,
SLEMAN -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman sudah mengantongi hasil uji
laboratorium terhadap makanan dari tiga katering yang menyebabkan ratusan
karyawan PT Mataram Tunggal Garment (MTG) di Balong, Donoharjo, Ngaglik,
Sleman, Yogyakarta beberapa waktu lalu mengalami keracunan massal.
Hasilnya, semua makanan terkontaminasi bakteri. Kepala
Dinkes Sleman, Mafilindati Nuraini mengatakan, bakteri yang terdapat pada
makanan tersebut berupa Staphylococcus Aureus dan Baccillus Cereus.
"Kontaminasi bakteri biasanya terjadi pada
makanan yang tidak higienis," katanya di ruang kerja pada Selasa (10/2).
Bakteri yang ditemukan dalam makanan
tersebut, memang dapat menyebabkan terjadinya gejala pusing, mual, muntah, dan
keringat dingin. Hal tersebut terbukti banyak karyawan yang keracunan mengalami
empat gejala tersebut.
Menurut dia, mual dan muntah yang
berlebihan akan mengakibatkan dehidrasi. Sehingga dengan dehidrasi tersebut
menyebabkan kejang-kejang karena kekurangan cairan.
Peristiwa ini, merupakan pembelajaran bagi perusahaan agar lebih teliti dalam membangun mitra dengan pengusaha katering. Dia menghimbau agar perusahaan memilih katering yang bersertifikat higiene sanitasi. Sebab, sertifikat tersebut untuk melindungi mutu makanan juga melindungi konsumen.
Peristiwa ini, merupakan pembelajaran bagi perusahaan agar lebih teliti dalam membangun mitra dengan pengusaha katering. Dia menghimbau agar perusahaan memilih katering yang bersertifikat higiene sanitasi. Sebab, sertifikat tersebut untuk melindungi mutu makanan juga melindungi konsumen.
"Hal ini semestinya dipatuhi
oleh perusahaan," tambahya. Kendati demikian, Dinkes tidak bisa memberikan
sanksi terhadap katering yang tidak memiliki sertifikat tersebut. Pasalnya,
aturan yang mengharuskan agar pengusahan katering memiliki sertifikat tersebut
baru berbentuk Peraturan Bupati (Perbup). Berbeda jika peraturan tersebut
berbentuk Peraturan Daerah (Perda) baru bisa dikenai sanksi.
Akan tetapi, dengan adanya peristiwa
keracunan massal dan ditemukannya makanan yang terkontaminasi bakteri maka,
Dinkes bisa mengeluarkan rekomendasi agar usaha katering tersebut dicabut izin
usahanya.
Dalam peristiwa keracuan massal
karyawan PT MTG beberapa waktu lalu, jumlah korban sebanyak 149 orang. Dari
jumlah tersebut 99 persen merupakan perempuan dan satu persen laki-laki.
Sedangakan untuk makanan yang disediakan yaitu sebanyak 1917 bungkus.
Ditanya soal proses selanjutnya terhadap ketiga katering yang menyediakan makanan kepada karyawan PT MTG tersebut, dia menyerahkan kepada kepolisian.
Ditanya soal proses selanjutnya terhadap ketiga katering yang menyediakan makanan kepada karyawan PT MTG tersebut, dia menyerahkan kepada kepolisian.
"Hasilnya ujian laboratorium nanti akan diminta
oleh Kapolsek, yang besok masih mau mengajukan permohonan," tutupnya.
3.
Buah Impor Cina Sebar Virus
Hepatitis A di Australia
TEMPO.CO, Canberra
- Sembilan warga Australia dinyatakan positif terjangkit virus hepatitis A
setelah mengkonsumsi buah beri asal Cina yang terkontaminasi. Importir telah
meminta maaf atas insiden ini. Produsen Patties Foods menarik empat produk, termasuk merek Nanna's dan Creative Gourmet. Di dalam kemasan keempat produk itu, buah beri dicampur dengan buah lain. Insiden infeksi virus ini dilaporkan terjadi di Victoria, Queensland, dan New South Wales.
Buah-buah yang sudah dikemas di Cina itu dijual di supermarket-supermarket besar dalam skala nasional. Kasus-kasus hepatitis A dihubungkan dengan buah segar kemasan yang dilabeli Nanna's Frozen Mixed Berries. Kini, bersama tiga merek lain, buah-buahan itu telah ditarik dari peredaran.
"Infeksi virus hepatitis A jarang terjadi dan
biasanya terkait dengan perjalanan ke negara-negara yang merupakan endemik
hepatitis A," kata Rosemary Lester, petugas kesehatan di negara bagian
Victoria, di mana tiga kasus telah dilaporkan. "Satu-satunya link
umum antarkasus adalah konsumsi produk ini, karena tidak ada perjalanan ke luar
negeri atau makan di restoran."
Kebersihan yang minim di kalangan
pekerja Cina diduga menjadi penyebabnya. Selain itu, air yang terkontaminasi
juga bisa menjadi penyebab. "Dalam situasi ini, kemungkinan besar
penyebabnya adalah kebersihan yang buruk di lokasi produksi," kata Enzo
Palombo, seorang ahli kesehatan dan keamanan pangan di Swinburne University of
Technology.
Hepatitis A bisa ditularkan oleh apa
yang disebut sebagai siklus faeses-oral. Dalam siklus ini, kotoran yang
mengandung virus hepatitis A mencemari makanan atau air.
Hepatitis A adalah penyakit virus
yang mempengaruhi organ hati. Penyakit dengan masa inkubasi hingga 50 hari ini
menyebabkan sakit perut, mual, muntah, kelelahan, dan apa yang kemudian lazim
disebut dengan penyakit kuning.
http://www.tempo.co/topik/masalah/2081/Keracunan-makanan
4. Makan
Ikan Tongkol, Santri Keracunan
22/10/14, 04:10 WIB

SARAPAN PAGI: Pelajar Ponpes Amal Islami Sukabumi,
Jawa Barat, menjalani perawtan di Puskesmas Lembursitu, Kecamatan Lembursitu,
Selasa (21/10). (Ikbal/Radar Sukabumi/JPNN)
SUKABUMI – Kasus
keracunan di kalangan pelajar terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Korbannya
berjumlah 17 santri Madrasah Tsanawiyah (MTs) kelas VII dan Madrasah Aliyah
(MA) Amal Islami.
Korban mengalami mual dengan wajah
memerah, pusing, gatal, dan kejang-kejang. Seluruh korban diduga menyantap ikan
tongkol saat sarapan sekitar pukul 06.30 WIB. Sarapan itu disediakan pihak
dapur umum milik pondok pesantren di Kampung Lemburpasir, RT 01, RW 05,
Kelurahan Sindangsari, Kecamatan Lembursitu, tersebut.
Korban lantas dilarikan ke Puskesmas
Lembursitu, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Selasa (21/10). Berdasar
pantauan Radar Sukabumi (Jawa Pos Group), 17 santri yang terkulai
lemah di IGD Puskesmas Lembursitu diberi slang infus di lengan. Sebanyak 6
santri telah dipulangkan lantaran kondisinya membaik. Sisanya, 11 santri, masih
dirawat pihak puskesmas.
Pimpinan Ponpes Amal Islami Sukabumi
Ustadz Deden Dahlan, 57, mengungkapkan bahwa kondisi yang dialami anak-anak
saat ini baru kali pertama terjadi. Sebab, ikan yang ditengarai penyebab
keracunan tersebut bukan kali pertama diperoleh pihak ponpes dari salah satu
orang tua siswa asal Pelabuhan Ratu. Hanya, ikan itu dimasak pihak ponpes pada
Senin (20/10).
Sementara itu, salah seorang korban,
Muhammad Fahmi, 13, menyatakan pusing setelah memakan ikan tersebut. Selain
itu, wajahnya tampak memerah dengan bintik-bintik kecil. Tidak lama kemudian,
dia muntah dan terpaksa dilarikan ke Puskesmas Lembursitu. ’’Sejam setelah saya
makan ikan itu, rasanya pusing dan mual-mual. Bahkan, ada teman saya yang
kejang-kejang,’’ ucapnya.
Di pihak lain, Kepala Puskesmas
Lembursitu dr Wahyu Handriana menuturkan bahwa para pasiennya diduga itu
mengalami keracunan makanan. Untuk memastikannya, tim medis Puskesmas
Lembursitu tidak memperoleh sampel makanan untuk diuji di laboratorium Bandung.
’’Melihat dari gejalanya sih, kami menganalisis mereka
itu keracunan makanan. Namun, kami belum bisa memastikan karena sudah tidak ada
sampel makanannya. Sisa makanannya pun sudah dibuang dan dicuci,’’ terang dr
Wahyu.
Saat ini, lanjut dia, seluruh korban telah mendapat
pelayanan medis. (ren/JPNN/c14/diq)
5.
Waspadai Histamin pada Ikan
Sajian dari
ikan laut selalu mengundang selera. Selain rasanya yang lezat, kandungan
proteinnya pun tergolong sangat prima kualitasnya. Tidak hanya itu, ikan juga
merupakan sumber asam lemak tidak jenuh ganda yang sangat besar peranannya
dalam mencegah berbagai macam penyakit (jantung koroner, aterosklerosis dan
beberapa penyakit kanker). Tetapi, dibalik kelezatannya tersembunyi bahaya
keracunan histamin. Apa itu histamin?
Histamin merupakan senyawa turunan
dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini
merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh
anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam
tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif
menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya
menyerang sistem vaskular. Pada orang-orang yang peka, histamin dapat
menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.
Histamin tidak membahayakan jika
dikonsumsi dalam jumlah yang rendah, yaitu 8 mg/ 100 gr ikan. Keracunan ini
biasanya akan timbul karena tingginya kadar histamin yang terdapat pada ikan
yang kita konsumsi. Menurut FDA (Food and Drug Administration) di Amerika
Serikat, keracunan histamin akan berbahaya jika seseorang mengkonsumsi ikan
dengan kandungan histamin 50 mg/100 gr ikan. Sedangkan kandungan histamin
sebesar 20 mg/ 100 gr ikan, terjadi karena penanganan ikan yang tidak hiegenis.
Gejala keracunan akan muncul apabila
kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam
jumlah diatas 70-1000 mg. Akibatnya, timbul muntah-muntah, rasa terbakar pada
tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher
kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin
mirip dengan gejala alergi yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan
atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru
membedakan gejala keracunan histamin dengan alergi. Sampai saat ini belum
pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu
kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa
dianggap sepele.
Langkah yang paling tepat untuk
mencegah keracunan histamin adalah dengan cara memilih dan mengkonsumsi ikan
yang masih segar dan bermutu baik. Selain itu perhatikan pula cara penanganan
ikan secara tepat dan benar sehingga kemungkinan besar bahayanya dapat
dihindari.
Sumber : Clickwok